Tidak ada bangsa yang lebih identik dengan fenomena bimbingan belajar modern melebihi Jepang.
Di sinilah model yang sekarang disalin oleh banyak negara Asia lahir dan berkembang. Kata juku (塾) dalam bahasa Jepang bukan barang baru juku sudah mulai banyak bermunculan pada era Tokugawa atau zaman Edo (1603–1867.
Pada masa itu pendidikan masih merupakan privilege kaum bangsawan, namun kebutuhan akan orang-orang yang bisa menulis, membaca dan pandai menggunakan sempoa semakin tinggi.
Setelah ke-shogunan Tokegawa berhasil menguasai seluruh Jepang, Jepang berada dalam periode damai setelah perang saudara berkepanjangan.
Periode damai ini menyebabkan perkembangan ekonomi yang pesat di Jepang. Para pedagang yang ingin mengembangkan bisnisnya membutuhkan tenaga terampil di bidang administrasi yang mampu melakukan pencatatan dan perhitungan dengan jumlah yang banyak.
Pada masa itulah mulai muncul Terakoya/Shujuku suatu lembaga informal semacam kursus yang ditujukan untuk melatih rakyat jelata untuk bisa membaca, menulis, dan menggunakan sempoa.
Lembaga Shujuku inilah yang dipercaya sebagai “leluhur” juku bimbel modern di Jepang. Keberadaan Terakoya/Shujuku ini berlangsung hingga zaman Edo berakhir dan masuk ke era Meiji.
Ketika Jepang memasuki era Meiji (1868–1912) dan membuka diri terhadap modernisasi besar-besaran, istilah juku berevolusi. Setelah Shujuku dihilangkan dan Jepang mulai membangun sekolah formal untuk seluruh masyarakat Jepang, Juku berevolusi menjadi sekolah tutorial yang berbeda dari sekolah publik atau swasta resmi.
Dari cerita di atas dapat kita ketahui keberadaan bimbel di dunia ini bukanlah hal yang baru ada di zaman modern saja, namun sudah ada sejak zaman dahulu namun bimbel tersebut memiliki bentuk berbeda dengan bimbel di zaman modern.
Seperti makhluk hidup, bimbel terus berevolusi untuk mempertahankan eksistensinya. Dari kelas-kelas yang hanya memberikan layanan untuk persiapan tes tertentu, menjadi kelas yang memberikan layanan untuk mempelajari keahlian tertentu yang dibutuhkan dalam pekerjaan, hingga nanti berevolusi menjadi bimbel yang ada saat ini ketika memasuki era modern.
Perubahan ini terjadi terutama setelah perang dunia kedua. Bimbel mulai berkembang lebih pesat kembali, tidak hanya di Asia Timur namun juga di belahan dunia lain. Cerita tersebut akan kita bahas pada tulisan berikutnya. Bersambung...




