Daftar Bimbel
Pembelajaran

Dari Sumpah Pemuda ke Nurul Fikri: Jejak Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa Melalui Pendidikan

Amiruddin
44 min read · Oct 28, 2026
Dari Sumpah Pemuda ke Nurul Fikri: Jejak Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa Melalui Pendidikan
Museum Sumpah Pemuda
Setiap 28 Oktober, bangsa Indonesia mengenang sebuah ikrar yang lahir dari ruang-ruang
pertemuan sederhana di Batavia.

Ikrar itu dirumuskan bukan oleh para penguasa, melainkan oleh anak-anak muda yang usianya baru dua puluhan.

Mereka tidak memegang senjata dan tidak punya jabatan, tetapi punya keyakinan bahwa kepentingan kelompok harus dilebur ke dalam kepentingan bangsa.

Hampir enam dekade kemudian, semangat yang sama kembali tampak di dunia pendidikan, ketika sekelompok mahasiswa dan sarjana muda Universitas Indonesia yang peduli terhadap pendidikan di negara Indonesia merintis Bimbingan dan Konsultasi Belajar Nurul Fikri.

Sejarah Sumpah Pemuda

Perjalanan menuju Sumpah Pemuda dimulai jauh sebelum 1928. Pada awal abad ke-20, politik etis membuka akses pendidikan bagi sebagian kecil bumiputra.

Dari bangku sekolah inilah lahir generasi terpelajar yang mulai menyadari bahwa penderitaan mereka sama, apa pun suku dan daerah asalnya. 

Tonggak pertamanya adalah Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi ini didirikan para pelajar STOVIA di Batavia, antara lain Soetomo, yang saat itu baru berusia sekitar dua puluh tahun, bersama kawan-kawannya.

Gagasan awalnya memang masih bersifat kedaerahan dan bergerak di bidang pendidikan serta kebudayaan, tetapi Budi Utomo dicatat sebagai organisasi modern pertama yang membuka jalan bagi pergerakan nasional. 

Sesudahnya bermunculan organisasi-organisasi kepemudaan berbasis daerah dan keyakinan yang didirikan oleh para pelajar muda.

Ada Tri Koro Dharmo (1915), yang kemudian menjadi Jong Java (1918), Jong Sumatranen Bond (1917), Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Minahasa, dan Pemuda Kaum Betawi, Jong Islamieten Bond (1925) dan lainnya.

Organisasi-organisasi ini penting sebagai wadah kaderisasi, tetapi sekaligus menunjukkan masalah lama: pemuda berjuang sendiri-sendiri menurut asal daerah dan golongannya.

Semangat kedaerahan membangkitkan kesadaran, tetapi belum menyatukan. Kesadaran bahwa persatuan harus ditempuh bersama mendorong para pemuda berkumpul.

Pada 30 April sampai 2 Mei 1926, Kongres Pemuda Indonesia I digelar di Batavia dengan M. Tabrani sebagai ketua.

Perwakilan dari berbagai organisasi pemuda hadir untuk membicarakan satu hal: bagaimana menumbuhkan rasa persatuan di antara mereka. 

Para pemuda dari berbagai daerah duduk di satu meja untuk pertama kalinya, dan gagasan tentang satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa mulai dibicarakan terbuka.

Tahun-tahun setelah kongres pertama berlangsung penuh gerak. Pada 1926 berdiri Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan mahasiswa lintas daerah.

Suasana kebangsaan semakin matang, dan para pemuda menyadari bahwa kongres kedua perlu menghasilkan sikap yang lebih tegas.

Panitia Kongres Pemuda II dibentuk dengan susunan yang mencerminkan persatuan itu sendiri. 

Ketua dijabat Soegondo Djojopoespito dari PPPI, wakil ketua Joko Marsaid dari Jong Java, sekretaris Muhammad Yamin dari Jong Sumatranen Bond, dan bendahara Amir Sjarifuddin dari Jong Bataks.

Sebagian besar dari mereka masih berusia dua puluhan: Soegondo lahir pada 1904, Yamin pada 1903, dan Amir Sjarifuddin pada 1907. 

Menjelang kongres, para panitia bekerja di tengah keterbatasan dan pengawasan ketat aparat kolonial.

Mereka harus mencari tempat pertemuan, menyusun acara, dan meyakinkan puluhan organisasi agar mau mengesampingkan ego masing-masing.

Semua itu dikerjakan oleh anak-anak muda yang belum mapan secara ekonomi, tetapi kaya akan tekad.

Kongres Pemuda II diselenggarakan di Batavia pada 27 dan 28 Oktober 1928 dalam tiga rapat
yang berlangsung di tiga tempat berbeda:
  • 27 Oktober malam, di Gedung Katholieke Jongelingen Bond, Waterlooplein, (sekarang bagian dari komplek gereja Katedral) dengan pembahasan tentang makna persatuan dan semangat kebangsaan.
  • 28 Oktober pagi, di Gedung Oost-Java Bioscoop, Koningsplein Noord, (gedungnya sudah tidak ada) dengan pembahasan tentang pendidikan, termasuk pandangan bahwa anak harus dididik secara nasional dan demokratis.
  • 28 Oktober malam, di Gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat 106 (sekarang museum sumpah pemuda), yang kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda.
Pada rapat penutup inilah momen bersejarah terjadi. Di sela pidato Sunario tentang gerakan
kepanduan dan pergerakan pemuda, Muhammad Yamin menuliskan sebuah rumusan di secarik kertas dan menyerahkannya kepada Soegondo. 

Setelah dibaca dan disepakati, rumusan itu dibacakan sebagai hasil kongres:
Pertama: Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia.
Kedua: Kami putra dan putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Kongres ditutup dengan peristiwa yang tak kalah mengharukan. W.R. Supratman, yang juga seorang pemuda, memperdengarkan lagu “Indonesia Raya” dengan gesekan biolanya untuk pertama kali di hadapan publik.

Karena situasi politik saat itu, lagu tersebut dibawakan secara instrumental tanpa syair. Perlu dicatat bahwa istilah “Sumpah Pemuda” baru populer belakangan. 

Pada masa kongres, hasil rumusan itu dikenal sebagai Ikrar Pemuda. Pemerintah kemudian menetapkan 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959, bersama sejumlah hari besar nasional lainnya. 

Makna terbesar dari ikrar itu adalah keberaniannya mendahului kenyataan. Pada 1928 Indonesia belum merdeka, bahkan belum ada negara bernama Indonesia.

Para pemuda itu mengikrarkan persatuan sebagai fondasi yang harus ada lebih dulu, dan tujuh belas tahun kemudian fondasi itu terbukti kokoh ketika Proklamasi dikumandangkan.


diorama Kongres Pemuda II di dalam Museum Sumpah Pemuda
diorama Kongres Pemuda II di dalam Museum Sumpah Pemuda

Dua Perjuangan, Satu Pola, Kongres Pemuda 1928 dan Bimbingan dan Konsultasi Belajar Nurul Fikri

Semangat yang sama, yakni anak muda yang melihat kebutuhan zamannya lalu bergerak merintis, juga terlihat pada kisah berdirinya Bimbingan dan Konsultasi Belajar Nurul Fikri (BKB NF).

BKB NF dirintis sejak tahun 1985 oleh sekumpulan mahasiswa dan sarjana muslim Universitas Indonesia. Seperti gerakan Kongres Pemuda 1928 para perintis BKBNF merupakan mahasiswa dan sarjana muda yang berada pada rentang usia dua puluhan.

Mereka tidak memulai dari modal besar atau fasilitas lengkap. Mereka memulai dari kepedulian terhadap para pelajar yang memerlukan pendampingan untuk menembus perguruan tinggi, dari ilmu yang mereka miliki, dan dari keyakinan bahwa pendidikan harus dibarengi pembinaan karakter.

Dari kelompok kecil itu, Nurul Fikri tumbuh menjadi institusi yang kini tersebar di seluruh Indonesia menjadi Lembaga yang tidak hanya memberi bekal akademik, tetapi juga membimbing siswa menjadi generasi yang unggul.


Lokasi Bimbel NF pertama di jalan Kenari Jakarta Pusat
Lokasi Bimbel NF pertama di jalan Kenari Jakarta Pusat


Kisah Sumpah Pemuda dan kisah Nurul Fikri tentu berbeda skala dan konteksnya, yang satu perjuangan kebangsaan dan yang lain perjuangan di bidang pendidikan. Namun keduanya memperlihatkan pola yang serupa:

  1. Dirintis oleh anak muda berusia sebaya. Para penggerak Kongres Pemuda 1928 dan para perintis Nurul Fikri sama-sama berada di usia dua puluhan, usia ketika idealisme masih menyala dan keberanian mengambil risiko masih besar.
  2. Berawal dari kelompok kecil dengan sumber daya terbatas. Kongres Pemuda berlangsung di gedung-gedung pinjaman di bawah pengawasan kolonial, sedangkan Nurul Fikri bermula dari inisiatif segelintir mahasiswa dan sarjana bermula dari gedung sekolah pinjaman. 
  3. Digerakkan oleh kepedulian, bukan keuntungan. Para pemuda 1928 memperjuangkan masa depan bangsa, para perintis Nurul Fikri memperjuangkan masa depan generasi pelajar.
  4. Mengutamakan persatuan dan kolaborasi. Sumpah Pemuda lahir karena organisasi-organisasi berbeda bersedia bersatu, dan BKB NF besar tumbuh karena perjuangan banyak orang yang bekerja bersama dalam satu visi.
  5. Tumbuh berkelanjutan lewat estafet generasi. Ikrar 1928 diteruskan oleh generasi Proklamasi 1945, dan semangat perintis Nurul Fikri diteruskan oleh para pengajar, staf, dan alumni hinnga kini.

Estafet yang Belum Selesai
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari sekelompok kecil anak muda yang berani bersepakat. Nurul Fikri memperlihatkan bahwa semangat itu tetap relevan di bidang lain, ketika pemuda yang merintis dengan tulus dapat melahirkan manfaat yang terus berkembang selama puluhan tahun.

Pesan keduanya bertemu pada satu hal: bangsa dan lembaga yang besar dibangun oleh generasi yang mau bergerak lebih dulu. Di peringatan Hari Sumpah Pemuda ini, tantangan bagi pemuda masa kini adalah meneruskan estafet itu dengan merintis, berkolaborasi, dan memberi manfaat bagi sesama, sebagaimana dilakukan para pendahulu.
Amiruddin

Ditulis oleh Amiruddin

Penulis di KabarNF

Lihat Profil